Tampilkan postingan dengan label ETIKA MUSLIM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKA MUSLIM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

TIGA CIRI ULAMA'



TIGA CIRI ULAMA'

1. Jika bertemu dengan yang sepadan ilmunya, ia berdialog
2. Jika bertemu dengan orang yang lebih tinggi ilmunya, ia belajar
3. Jika bertemu dengan orang yang lebih rendah ilmunya, ia mengajari

(Disebutkan oleh Imam Al Ajurri dalam kitabnya, Akhlaqul Ulama')


Selasa, 21 Februari 2017

ETIKA KETIKA BERSELISIH PENDAPAT


Dalam menghadapi perselisihan, sikap yang mulia hendaklah selalu diutamakan. Hal itu disebabkan karenaketika  terjadi perselisihan antara dua pihak, keduanya berusaha untuk saling menjatuhkan dan saling menyalahkan. Imbasnya, akan terjadi sikap dan perilaku yang jauh dari sifat kemuliaan.
ketika berselisih,  jiwa dan diri manusia diuji; akankah jiwa manusia dapat mempertahankan segala kemuliaan yang dipelajari selama ini, atau dia akan tenggelam dalam amarah yang akan menghanguskan kemuliannya. Karenanya, walau dalam kondisi kondisi marah, jiwa dan nafsu harus berada dalam adab-adab yang yang telah disyariatkan, yaitu :

1.    Inshaf; berlaku adil.

Bersikap insaf atau adil amat sukar dilakukan karena sebagai manusia, mudah hanyut terbawa emosi. Padahal emosi akan membutakan mata hati manusia, yang benar terlihat salah dan yang salah terlihat sebagai kebenaran.  Padahal benar dan salah timbangannya adalah syariat, bukan emosi dan perasaan. Firman Allah Ta‘ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[QS Al Maidah : 8]

2.    Selalu berprasangka baik.

Sekalipun jiwa dibakar amarah ketika berselisih, seorang muslim harus selalu mengedepankan husnudhonnya. Karena bisa jadi perselisihan timbul karena seseorang selalu bersu’udhon kepada pihak lain. Firman Allah Ta‘ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” .(QS. Al Hujurat:12)

3.    berusaha untuk saling menasehati

Nasihat merupakan satu sendi utama dalam Islam. Hal ini telah Allah tegaskan dalam surat Al Ashr:

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ( Al Ashr :1-3)
Dengan nasihat, agama ini dapat dipelihara daripada penyelewengan Aqidah, ibadah, dan akhlak. Akan tetapi memberi nasihat juga perlu memperhatikan etika. Antara lain:
•    Niat ikhlas.
•    Mencari cara yang tepat untuk menasehati orang lain. Dengan sembunyi-sembunyi, dengan surat atau dengan cara yang lain. Antara pribadi satu dengan yang lainnya memerlukan cara yang berbeda.
•    Orang yang dinasehati harus terbuka untuk menerima saran dan kritikan dari yang lain selama tidak melanggar dari aturan Allah.
•    Seyognya orang yang dinasehati, menghargai nasehat yang ditujukan kepadanya. Tidak meremehkan, apalagi mengabaikan.

4.    Menghormati Ahlul ilmi

Orang yang berilmu (ahlul ilmi)  adalah golongan yang mulia dikarenakan predikat mereka sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya). Namun sebagai manusia, mereka tidak luput dari kekhilafan dan kesalahan. menyikapi perselisihan dengan ahlul ilmi, hendaknya kita tetap memberikan penghormatan kepada orang yang memiliki ilmu. Jangan sampai mendudukan mereka sama seperti orang awam yang tidak memiliki ilmu. Karena merendahkankan mereka ibaratnya seperti merendahkan islam.
Allah berfirman :
قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“ Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui. (Al-Baqarah :247)

5.    Kembali kepada ahlul ilmi.

Salah satu faktor yang pemicu perselisihan adalah karena keminiman ilmu yang di miliki masing-masing pihak. Tanpa disadari, berkembang menjadi perselisihan karena bersikukuh dengan pendapatnya. Dalam keadaan seperti ini, mengembalikan masalah kepada ahli ilmu sangat dianjurkan. Sesuatu yang samar akan menjadi jelas ketika ahli ilmu turun tangan menjadi  penengah dalam pertikaian.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“ Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad), melainkan dari kalangan orang-orang lelaki, yang Kami wahyukan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu (wahai golongan musyrik) kepada orang-orang yang berpengetahuan ugama jika kamu tidak mengetahui.“(al-Nahl 16:43):

6.    meminimilasir perkara yang menjadi sumber perselisihan

Setiap perselisihan tentu ada penyebabnya, sesuai kata pepatah tidak ada asap kalau tidak ada api. Nafsu manusia memang cenderung untuk mengungkit-ungkit perkara yang kadang akan membuat pihak yang lain tidak berkenan. Dalam perkara agama misalnya, selalu membesarkan perkara-perkara yang para ulamapun berbeda pendapat tentangnya. Bilangan rekaat tarawih dan mengangkat tangan dalam sholat misalnya.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
’’ Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ’’(Al-Anfal 8:46):

7.    Mengutamakan ukhuwwah.

Perselisihan memang merupakan suntullah/ketetapan dari Allah yang tidak bisa dihindari. Namun menjaga persaudaraan lebih diutamakan daripada menghanyutkan diri dalam perselisihan.  Bukankah para ulama dahulu juga berbeda pendapat yang akhir menjadi madzhab dalam fiqih?. Namun semua itu tidak menjadikan ukhuwah diantara mereka renggang. Yang terjadi justru sebaliknya., mereka saling menghormati dan salaing memuji karena mereka sangat menjiwai ukhuwah islamiyyah sebagai kewajiban.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“ Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.[QS Al Hujurat : 10]

ketika salaf ketika berselisih

1.    Dalam kitab  Tadzkiratul Huffadz dikisahkan bahwa  Imam Yahya bin Sa’id Al Anshari rahimahullah berkata : ”Para ulama adalah orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan keleluasaan sikap, dimana para mufti selalu saja berbeda pendapat, sehingga (dalam masalah tertentu) ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Namun mereka tidak pernah  saling mencela satu sama lain.
2.    Dalam kitab Siyaru A’lam An-Nubala dituliskan bahwa Imam Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi rahimahullah (salah seorang murid/sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata : ” Aku tidak mendapati orang yang lebih berakal (lebih cerdas) daripada Asy Syafi’i. Suatu hari pernah aku berdiskusi (berdebat) dengan beliau, lalu kami berpisah. Setelah itu beliau menemuiku dan menggandeng tanganku seraya berkata : ” Hai Abu Musa! Tidakkah sepatutnya kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak sependapat dalam satu masalah pun ? (tentu diantara masalah-masalah ijtihadiyah)
3.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan dalam Majmu’ Al-Fatawa : ”Seandainya setiap kali dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah itu saling menjauhi dan memusuhi, niscaya tidak akan tersisa sedikitpun ikatan ukhuwah diantara kaum muslimin” .
4.    Disebutkan dalam kitab Al-Faqih wal Mutafaqqih bahwa Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,”Dalam masalah-masalah yang diperselisihkan diantara para ulama fiqih, aku tidak pernah melarang seorang pun diantara saudara-saudaraku untuk mengambil salah satu pendapat yang ada”.
5.    Dalam Majmu’ Al-Fatawa,  Syaikhul Islam  juga menyebutkan sikap Ahmad bin Hambal rahimahullah  yang berpendapat bahwa berbekam dan mimisan itu membatalkan wudhu. Namun ketika beliau(imam Ahmad) ditanya oleh seseorang,”Bagaimana jika seorang imam tidak berwudhu lagi (setelah berbekam atau mimisan), apakah aku boleh shalat di belakangnya?” Imam Ahmad pun menjawab,”Subhanallah! Apakah kamu tidak mau shalat di belakang Imam Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah dan Imam Malik bin Anas rahimahullah?” (karena beliau berdualah yang berpendapat bahwa orang yang berbekam dan mimisan tidak perlu berwudhu lagi)
Semoga kita dapat meneladani para pendahulu kita yang shalih ketika mengalami perbedaan pendapat dengan saudara-saudara kita. Allahu a’lam.

Referensi
1.    Al-Muswaddah Fi Ushulil Fiqhi Li aali Taimiyah
2.    Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah
3.    Siyaru A’lam An-Nubala, Adz Dzahabi
4.    Tadzkiratul Huffadz
5.    Al-Faqih wal Mutafaqqih

Sumber: http://www.annursolo.com

Senin, 13 Februari 2017

Valentine, Benarkah Hari Kasih Sayang?



Cinta Semu di Hari Valentine

Yang kami nilai, cinta di hari valentine adalah cinta semu. Karena konsekuensi dari cinta adalah cinta karena iman. Semakin orang lain itu beriman, maka semakin ia dicintai. Semakin ia gemar dalam maksiat, semakin berkurang kecintaan padanya. Cinta pada hari valentine tidaklah demikian.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah dan bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28: 209).

Yang Ada, Cinta Karena Hawa Nafsu

Kecintaan di hari valentine sejatinya adalah cinta didasarkan hawa nafsu. Kenyataannya, kasih sayang yang ada bukanlah dari pasangan yang legal. Namun timbul dari pasangan yang belum ada status yang sah. Jadinya, yang adalah cinta berdasarkan hawa nafsu. Cinta tersebut pun adalah perantara menuju zina yang termasuk dosa besar. Padahal Allah telah memeringatkan,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32).

Islam Sebenarnya Sudah Mengajarkan Kasih Sayang

Di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling menyayangi ini sudah diajarkan.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29).
Bentuk kasih sayang yang diajarkan dalam Islam adalah dengan menolong satu dan lainnya.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71).
Bahkan seorang mukmin dituntut untuk mewujudkan cintanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Salah seorang di antara kalian tidaklah dikatakan beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Kasih sayang dalam Islam diajarkan setiap waktu, bukan di hari Valentine saja, bukan 14 Februari saja.

Say no to Valentine

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Selesai disusun di siang hari 1:58 PM, 12 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin
Artikel Rumaysho.Com


Sumber : https://rumaysho.com/10234-valentine-benarkah-hari-kasih-sayang.html

Bolehkah memberi atau menerima hadiah Valentine?


Bolehkah memberi atau menerima hadiah Valentine? Saat hari valentine, biasa saling memberi hadiah coklat atau bunga tujuannya dalam rangka kasih sayang.
Hukum asal memberi hadiah adalah sunnah (dianjurkan). Hal ini berdasarkan hadits,
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 594. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Irwaul Gholil no. 1601)
Saling memberi hadiah merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, seorang penyair Arab menyatakan dalam sebuah sya’ir:
هَدَايَا النَّاسِ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ تُوْلِدُ فِي قُلُوْبِهِمُ الوِصَالَ
Hadiah yang diberikan oleh sebagian orang kepada yang lain bisa menumbuhkan rasa saling mencintai di hati mereka.
Namun karena valentine adalah hari perayaan yang bermasalah karena meniru-niru budaya non-muslim (Nashrani), maka menerima hadiah ketika itu terlarang, begitu pula memberinya.


Sumber : https://rumaysho.com/12889-hadiah-valentine.html

Minggu, 13 November 2016

ETIKA BERDZIKIR DAN BERDOA


Sesungguhnya dalam berdzikir dan berdoa terdapat etika, adab syar’i yang mesti dilakukan, juga syarat-syarat yang diwajibkan. Tentu saja jika adab dan syarat tersebut dijaga maka doa dan dzikir kita akan memberi dampak tercapainya harapan  yang dipinta. Namun barang siapa tidak menghiraukan etika-etika tersebut maka ia patut mendapatkan tiga perkara; kemarahan Allah, dijauhkan dariNya dan tidak terkabulnya harapan atau doa. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal ini.

Disini kami akan menyebutkan adab-adab berdoa dan berdzikir serta syarat-syaratnya:

1.                   Mengetahui riwayat dan kebiasaan para Nabi, para Rosul, serta orang-orang shalih ketika hendak meminta agar kebutuhannya terpenuhi oleh Rabbnya. Yaitu mereka bersegera berdiri dihadapan Rabbnya. Mereka membariskan kaki dalam shalat, kemudian mengangkat kedua telapak tangannya, mengalirkan air mata, memulai dengan bertaubat, serta meninggalkan penyimpangan mereka dengan memendam kekhusyu’an dalam hati mereka, sambil penuh rendah diri dan pasrah.

Dilanjutkan mereka menyanjung Rabbnya, mensucikanNya, mengagungkanNya, serta memujiNya. Setelah itu mereka mulai berdo’a dan memohon apa yang mereka kehendaki.
Kisah Nabi Ibrahim ketika akan berdo’a pada QS. Asy Syu’ara’:78-82, beliau menyanjung Rabbnyadengan lima kali sanjungan. Setelah itu Nabi Ibrahim memohon lima kebutuhan QS.Asy Syu’ara’: 83-87. Maka Allah memenuhi kebutuhan beliau kecuali satu perkara (permohonan ampun pada ayahnya).

2.                   Hendaknya berdoa dengan penuh keikhlasan, sangat berharap kepada Allah untuk mengabulkan doanya, takut akan adzabNya, menundukan diri dan dengan kekhusyu’an. (QS. Al Anbiya’: 90)

3.                   Memohon dengan penuh kepastian dan tidak ragu sedikitpun. Nabi bersabda: “Janganlah orang yang berdo’a mengatakan; ‘Ya Allah, rahmatilah saya jika Engkau menghendaki.’ Akan tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena Allah tidak ada yang memaksaNya.”(HR. Bukhari, no.6339 dan Muslim, no.2679)

4.                   Hendaknya memperkuat harapannya kepada Allah yang Maha Mulia. Jangan sampai berputus asa terhadap rahmatNya. Bersabar dan tidak terburu-buru ingin segera di kabulkan. Nabi bersabda: “Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, ‘saya telah berdoa, namun tidak juga dikabulkan untukku.”

5.                   Hendaknya meminta kebaikan untuk kaum mukminin. “Dan mohonlah ampun bagi dosamu dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

6.                   Memulai dengan mentauhidkan Allah. Doa Nabi Yunus (QS. Al Anbiya’:87-88)

7.                   Mengucapkan doanya secara rahasia dan tersembunyi. Sehingga tidak didengar selain Allah. “Berdoalah pada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS.Al A’raf:55)

8.                   Menguatkan rasa rendah diri dan ketundukan. Menghindari kesombongan dan keangkuhan. (QS. Yusuf: 67)

9.                   Dalam kondisi yang paling sempurna. Menghadap kiblat, menunduk, khusyu’ dan sangat merendahkan diri dihadapanNya. (Qs. Ali Imran: 190-191)

10.               Berdoa terus menerus atau mengulang ulangnya.

11.               Mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Dari Abu Musa Al asy’ari dia berkata: “Nabi meminta air dan beliau pun berwudhu dengan air itu. Kemudian beliau tengadahkan kedua tangan nya dan berdoa….” (-Potongan hadits- HR. Al Bukhari, no.4323 dan Muslim, no.2498)

12.               Berdoa dan berdzikir di tempat yang tenang dan bersih (suci). Abu Maisarah berkata, “Dzikir kepada Allah tidak dilakukan kecuali di tempat yang baik.”

13.               Mulutnya bersih (tidak berbau).

14.               Keadaan yang dilarang berdoa dan berdzikir. Ketika sedang buang hajat, saat bersetubuh dengan isterinya, saat khotib sedang berkhutbah, saat mengerjakan shalat.

15.               Mendahulukan menjawab salam saudaranya seiman, menjawab atau mendoakan saudaranya ketika bersin, dan kemudian kembali berdzikir.
 
Allahu ta’ala a’lam bish shawab.

Diringkas dari buku Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad hal.48-69, Penerbit Sukses Publising.

Kunjungi Juga: