Tampilkan postingan dengan label AL QURAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL QURAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Khutbah Jumat, Dibawah Naungan Al Qur'an


Sebagaimana kita ketahui, di negeri kita telah terjadi pernyataan yang menistakan Al Quran. Bukan sembarang orang yang menyatakannya, tapi seorang pejabat negara, yakni Gubernur DKI Jakarta. Sekali lagi, umat Islam melakukan demonstrasi hari ini di Jakarta, diikuti oleh umat Islam dari berbagai daerah untuk menuntut kepada penegak hukum agar menghukum pelakunya. Demonstrasi seharusnya tidak perlu terjadi, apalagi sampai terjadi di berbagai daerah apabila ada proses hukum yang cepat sebagaimana kasus-kasus lain.

Ada banyak hikmah atas penistaan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terhadap Al Quran. Salah satunya adalah mengingatkan kita untuk semakin memperkokoh komitmen kepada Al Quran, mulai dari bisa membaca, rajin membaca, memahami hingga mengamalkan dan mendakwahkannya. Setiap kita harus berusaha untuk menjalani hidup sebagaimana petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Quran, ini berarti kita hidup di bawah naungan Al-Quran.

Sayyid Quthb, dalam tafsirnya Fi Dzilalil Quran menyebutkan bahwa hidup di bawah naungan Al-Quran adalah nikmat, kenikmatan yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menghayatinya, kenikmatan yang dapat mengangkat derajat manusia, memberkati dan membersihkan kehidupan ini dari segala bentuk kekotoran.

Ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari hidup di bawah naungan Al-Quran. Sekurang-kurangnya, kita bisa menyimpulkannya menjadi tiga. Pertama, kehidupan kita menjadi terbimbing. Hal ini karena meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil atau yang benar dan yang salah, padahal kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan yang benar, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku. Sudah begitu banyak manusia yang tidak berpikir, bersikap dan bertingkah laku secara benar karena tidak mau mengambil bimbingan dari Al-Quran.

Karena tidak mengambil bimbingan dari Al-Quran, banyak manusia yang tersesat dalam masalah ketuhanan sehingga menuhankan benda-benda yang memiliki sejumlah kelemahan seperti manusia dan patung, pohon, dan jenis-jenis berhala lainya, Allah swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka Serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.(QS Al A’raf [7]:194).

Dengan sebab tidak menjadikan Al-Quran sebagai pembimbing hidup, maka banyak manusia yang dalam masalah hukum tidak mendapatkan perlakuan hukum dan tidak bisa menegakkan hukum secara adil. Kasus-kasusnya begitu banyak mulai dari maling ayam dan maling sandal yang dikeroyok massa lalu dianiaya dan dibakar hingga mati, sementara disisi lain, ada orang yang bersalah dengan kesalahan yang besar tapi tidak dihukum yang sesuai dengan tingkat kesalahannya, bahkan sampai ada yang dibebaskan begitu saja dan begitulah seterusnya, akibatnya terjadi kekacauan dalam tatanan kehidupan masyarakat sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini.

Dalam masalah akhlak, akibat tidak menjadikan Al-Quran sebagai pembimbing hidup, telah terjadi kehancuran tata nilai kehidupan sehingga begitu banyak kasus-kasus yang mengerikan dan mengkhawatirkan bagi peradaban manusia dimasa datang mulai dari perzinaan yang merajalela, pengguguran kandungan yang kian banyak, narkoba yang terus merusak generasi bangsa, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian, korupsi dan sejenisnya yang kian merusak citra masyarakat dan berbagai bentuk kerusakan akhlak lainnya yang ke semua itu membuat masa depan masyarakat dan bangsa semakin mengkhawatirkan, hal ini karena akibat negatif yang ditimbulkan dari kerusakan akhlak, bukan hanya menimpa mereka yang jauh dari Al-Quran tapi juga bisa terjadi pada mereka yang hidupnya sejalan dengan nilai-nilai Al-Quran.
Oleh karena itu, Al-Quran membawa kenikmatan dalam kehidupan manusia manakala difungsikan sebagai petunjuk sehingga dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).
Jamaah Sekalian Yang Berbahagia.

Kedua yang merupakan manfaat dari hidup di bawah naungan Al-Quran adalah memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Hidup yang kita jalani ini tidak pernah sepi dari berbagai persoalan, satu persoalan belum teratasi, tapi sudah muncul persoalan berikutnya. Orang yang tidak mengambil bimbingan dari Al-Quran menjadi bingung dalam menghadapi persoalan itu, kebingungan mengakibatkan kekalutan dan kekalutan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak terkendali, ujungnya adalah merugikan dirinya dan orang lain, bahkan bukan hanya kerugian di dunia ini saja tapi juga di akhirat nanti.
Ada banyak contoh yang bisa kita ungkap, misalnya kebingungan dalam menghadapi persoalan ekonomi membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bahkan banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang hanya karena terimpit persoalan ekonomi yang besar, padahal bunuh diri akan membawanya pada kesengsaraan sepanjang masa dalam kehidupan berikutnya di akhirat. Di samping itu kekalutan juga membuat seseorang melakukan tindak kekerasan yang tidak pada tempatnya, bahkan tidak sedikit suami yang bertindak kasar kepada istrinya atau istri terhadap suaminya, orang tua terhadap anaknya, bahkan anak terhadap orang tuanya dan sesama anggota masyarakat yang semestinya saling hormat menghormati dan cinta mencintai.
Sementara bagi orang yang hidup di bawah naungan Al-Quran, dia amat yakin bahwa segala kesulitan dan persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya, apalagi hal ini merupakan janji Allah swt yang tidak mungkin salah, Allah swt berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا.وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At Thalaq [65]:2-3).

Bahkan di penghujung ayat 4 dari surat yang sama, Allah swt berjanji:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dijadikan baginya kemudahan dalam urusan-urusannya (QS At Thalaq [65]:4).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Manfaat Ketiga yang bisa kita dapat dari hidup di bawah naungan Al-Quran adalah kehidupan kita menjadi bersih. Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa sedikit pun, Islam tidak mengenal ada istilah dosa keturunan dari orang tua terhadap anaknya. Namun tanpa bimbingan Al-Quran kehidupan manusia menjadi kotor, kotor jiwanya, kotor pikirannya dan kotor perbuatannya.
Jiwa yang kotor telah melahirkan sikap-sikap buruk seperti riya atau ingin mendapatkan pujian dari orang lain, hasad atau iri hati terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai orang lain, takabur atau menyombongkan diri dengan sebab merasa memiliki kelebihan pada dirinya dan sebagainya. Sementara pikiran yang kotor telah membuat manusia menjadi orang yang menganggap baik perbuatannya yang buruk, ketentuan yang benar dianggapnya sebagai hambatan dan sebagainya. Sedangkan perbuatan yang kotor telah mengakibatkan peradaban manusia menjadi begitu rendah, bahkan bisa lebih rendah dari binatang ternak yang biasanya nilainya ditentukan hanya dengan ukuran berat badan. Bahkan secara fisik, kekotoran manusia dalam bertingkah laku juga mengakibatkan malapetaka yang amat besar. Karena itu perhatikanlah bagaimana perzinaan telah menyebabkan penderita AIDS yang sedemikian mengkhawatirkan, pengguguran kandungan dan sebagainya.
Adapun hidup di bawah naungan Al-Quran, maka kehidupan manusia menjadi bersih, bersih jiwanya dengan selalu mengutamakan keikhlasan, husnuzhzhan atau berbaik sangka terhadap orang lain, tawadhu atau rendah hati terhadap orang lain, meskipun orang itu lebih rendah kedudukannya, jujur yang dapat menghangatkan hubungan persaudaraan, tawakkal atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin yang akan membawa sikap optimis dan sebagainya. Di samping itu bersih juga pikirannya sehingga yang dipikirkannya adalah hal-hal yang akan membawa manfaat dan kebaikan atau kebenaran, baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat, bangsa dan agamanya, sedangkan bersih perbuatan adalah apapun yang dilakukannya, semua berorientasi kepada amal yang shalih sebab amal yang shalih merupakan bekal yang amat penting dalam kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan yang bersih seperti inilah yang akan membukakan dan mendatangkan keberkahan baik, dari langit maupun dari bumi, Allah swt berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf [7]:96).
Oleh karena itu hidup di bawah naungan Al-Quran, di samping memberikan kenikmatan lahir dan batin, jasmani dan rohani, juga dapat meneropong kehidupan ini, mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah, mana bahagia dan mana sengsara, mana kemajuan dan mana keterbelakangan, mana keadilan dan mana kezaliman dan begitulah seterusnya.
Dari sini, semakin kita sadari dan harus kita akui bahwa ajaran Islam yang indah dan nikmat ternyata terhalang keindahan dan kenikmatannya itu oleh sikap dan perilaku umat Islam, akibatnya tidak sedikit manusia, bahkan umat Islam sendiri yang takut terhadap penegakan nilai-nilai dan syariat Islam. Karenanya tidak aneh kalau upaya penegakannya ditentang sendiri oleh sebagian kaum muslimin, bahkan bukan karena mereka awam terhadap Islam dan Al-Quran, tapi karena memang mereka tidak berada di bawah naungan Al-Quran itu sendiri.
Demikian khutbah Jumat kita hari ini, harapan kita, semoga terjalin kehidupan yang damai dan sejahtera. Jangan ada lagi upaya menghina dan menista agama dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Kita tentu memaafkan pelakunya, namun proses hukum tetap harus ditegakkan sebagaimana berlaku pada kasus yang lain. (dakwatuna.com/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Selasa, 21 Februari 2017

Fungsi siang dan malam menurut Al Quran


Oleh: Tengku Azhar

 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11)
“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 10-11)

Tafsirul Ayat
Imam Ath-Thabari –rahimahullah- menyebutkan, “Dan telah kami jadikan malam bagi kalian sebagai penutup, yang kegelapannya menutupi kalian sehingga kalian menjadi tenang, sebagai pakaian menutupi jasad pemakainya sehingga ia pun menjadi tenang. Dan telah kami jadikan siang bagi kalian agar kalian bertebaran di muka bumi ini untuk mencari penghidupan kalian, dan agar kalian bebas melakukan apa saja yang bisa mendatangkan kemaslahatan duniawi kalian.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin –rahimahullah- menjelaskan, “Yakni Allah menjadikan malam sebagai pakaian yang menyelimuti bumi, seolah-olah jilbab yang menutupinya. Hal ini tidak akan dapat diketahui secara sempurna kecuali dengan melihatnya langsung dari atas bumi. Kami telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat menakjubkan ketika menaiki pesawat terbang, saat itu matahari tenggelam ke permukaan bumi, kami saksikan seolah bumi diselimuti dengan kain hitam. Dan Allah telah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan. Manusia mencari rezeki di siang hari sesuai dengan kedudukan dan keadaan mereka masing-masing. Ini merupakan salah satu nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya.

Siang dan Malam Merupakan Tanda-tanda Kekuasaan Allah
Siang dan malam merupakan bukti kekuasaan Allah yang tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa menandingi-Nya. Mahabenar Allah yang telah berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا (12)
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu  (dapat) mencari karunia dari Rabbmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun  dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Isra`: 12)
Kemudian Allah menjelaskan lagi:

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan (air) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Al-Hafizh Abu Bakar Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari shahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:
“Orang-orang Quraiys dating kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya berkata, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya kami menginginkan engkau mendoakan kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan bukit Shafa ini emas buat kami. Untuk itu maka kami akan membeli kuda dan senjata dengannya, dan kami akan beriman kepadamu serta berperang bersamamu’. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Berjanjilah kalian kepadaku, sekirang aku berdoa kepada Tuhanku, kemudian Dia menjadikan bagi kalian bukit Shafa emas, kalian benar-benar beriman kepadaku’. Maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk hal tersebut. Kemudian Nabi berdoa kepada Tuhannya, dan datanglah malaikat Jibril kepadanya seraya berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanmu sanggup menjadikan bukit Shafa emas buat mereka, dengan syarat jika mereka tidak juga beriman kepadamu, maka Allah akan mengadzab mereka dengan siksaan yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara makhluk-Nya.’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, ‘Wahai Tuhanku, tidak, lebik baik biarkanlah aku dan kaumku. Aku akan tetap menyeru mereka dari hari ke hari’. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan (air) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Siang Untuk Bekerja Malam Untuk Istirahat
Merupakan karunia dan nikmat Allah yang Maha Agung, Dia telah menjadikan untuk hamba-hamba-Nya siang sebagai waktu untuk bekerja dan mencari penghidupan. Serta menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat.
Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertebaran ke muka bumi dalam rangka mencari penghidupannya setelah shalat Jum’at dilaksanakan. Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan menggunakan waktu siang kita untuk bekerja dan menggunakannya untuk mencari kemaslahatan duniawi kita, sehingga kehidupan seorang mukmin itu menjadi seimbang.
Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Dan ketahuilah bahwa bagian siang yang paling banyak mengandung berkah adalah pagi harinya. Karenanya suatu ketika Shahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- melihat anaknya sedang tidur pagi, maka ia berkata, “Bangunlah, apakah kamu tidur pada waktu disebarkan rezeki?”

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Bersegeralah dalam mencari rezeki dan kebutuhan (hajat), karena dalam kesegeraan (pergi pagi) itu terdapat keberkahan dan kesuksesan.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan:

 عَنْ صَخْرٍ الْغَامِدِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا ». وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ فِى أَوَّلِ النَّهَارِ. وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلاً تَاجِرًا وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُه
Dari Shakhr bin Wada’ah Al-Ghamidi –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia bersabda, “Ya Allah berkahilah untuk umatku pada pagi harinya.” Jika beliau mengutus pasukan perang, maka beliau mengutuskan pada pagi hari. Shakhr adalah seorang pedagan yang biasa mengirimkan barang dagangannya pada pagi hari, maka ia menjadi kaya raya dan banyak harta.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits hasan shahih)

Kemudian dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah menjadikan malam sebagai tempat dan waktu untuk beristirahat dari segala kepenatan dan kelelahan di siang hari.
Maha Benar Allah yang telah berfirman:

   وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
“Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)
Dan Dia telah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Dialah yang menidurkanmu pada malam hari, dan kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)
Dan firman-Nya:

قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَنِ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُعْرِضُونَ
“Katakanlah, ‘Siapa yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’ Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Karenanya, jika telah datang waktu pagi maka janganlah kita menunggu-nunggu datangnya waktu sore, dan apabila telah datang waktu sore maka janganlah kita menunggu-nunggu datangnya waktu pagi. Wallahu ‘Alamu bish Shawab.

sumber: Majalah YDSUI April 2012

Kamis, 16 Februari 2017

Hukum dan Ancaman Meninggalkan Sholat Jum'at / Jum'atan


Hukum dan/atau Kewajiban Sholat Jum'at

Jum'atan atau shalat jum'at adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sebagaimana Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
 Artinya :
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9).

Dilansir dari muslim.or.id, mayoritas pakar tafsir mengatakan, yang dimaksud ‘DZIKRULLAH’ (Mengingat Allah) di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265)

Rasulullah SAW bersabda;

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ
 Artinya :
“(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi Muhammad bersabda;

رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
 Artinya :
“Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

Jadi sudah jelas, bahwa shalat jum'at atau jum'atan adalah kewajiban bagi kita semua sebagai orang muslim, terkecuali budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.


Ancaman Meninggalkan Jum'atan (Shalat Jum'at)

Banyak riwayat yang menyebutkan ancaman bagi orang yang meninggalkan jum'atan sebanyak 3 kali dengan sengaja atau tanpa udzur. Berikut adalah beberapa dalil-dalilnya, seperti dilansir dari konsultasisyariah.com
  • Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ
     Artinya :
    ”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)
  • Hadis dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
     Artinya :
    ”Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)
  • Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ، ثَلَاثًا، مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
     Artinya :”Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, berarti dia telah membuang islam ke belakang punggungnya.” (HR. Abu Ya’la secara Mauquf dengan sanad yang shahih – shahih Targhib: 732).
“Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali, bukan karena darurat, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ibnu Majah 1126 dan dishahihkan al-Albani)
  • Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَمِعَ الْأَذَانَ ثَلَاثَ جُمُعَاتٍ ثُمَّ لَمْ يَحْضُرْ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ
     Artinya :
    "Siapa yang mendengar adzan jumatan 3 kali, kemudian dia tidak menghadirinya maka dicatat sebagai orang munafik. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, dan dihasankan al-Albani dalam Shahih Targhib, no. 728).
  • Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه
     Artinya :
    “Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut tanpa udzur, Allah akan mengunci mati hatinya.” (HR. At-Thayalisi dalam Musnadnya 2548 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Jami’ as-Shaghir).
  • Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,
    من ترك الجمعة ثلاث جُمَع متواليات، فقد نبذَ الإِسلام وراء ظهره
     Artinya :
    ”Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, berarti dia telah membuang islam ke belakang punggungnya.” (HR. Abu Ya’la secara Mauquf dengan sanad yang shahih – shahih Targhib: 732).

  • Dari beberapa riwayat di atas tentang ancaman meninggalkan shalat jum'at, ada beberapa pelajaran yang bisa kita catat, antara lain :
    1. Yang dimaksud ‘Allah kunci hatinya’ adalah Allah menutup hatinya dan menghalangi masuknya hidayah dan rahmat ke dalam hatinya. Kemudian digantikan dengan kebodohan, sifat beringas, dan keras kepala. Sehingga hatinya seperti hati orang munafik. Demikian keterangan al-Munawi dalam Faidhul Qodir (6/133).

      Ketika hati seseorang sudah dikunci mati, dia menjadi kebal hidayah. Seberapapun peringatan yang dia dengar, tidak akan memberikan manfaat dan tidak akan menggerakkan hatinya. Seolah dia terhalang untuk bertaubat.

      Hukuman semacam ini mirip dengan hukuman yang Allah berikan kepada Iblis. Karena pembangkangannya, Allah tutup kesempatan bagi Iblis untuk bertaubat. Sungguh hukuman yang sangat menakutkan.

      Demikian pula keadaan orang munafik. Karena batin mereka mengingkari kebenaran, Allah kunci mati hatinya, sehingga mereka menjadi bodoh dengan hidayah.
      فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ
       Artinya :
      ”Lalu hatinya dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun: 3).
    2. Semua perbuatan dosa dan maksiat, akan menjadi sebab tertutupnya hati. Semakin besar dosa yang dilakukan seseorang, semakin besar pula penutup hatinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :
       Artinya :
      Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi 3334, dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).
      Meninggalkan jumatan tanpa udzur termasuk dosa berbahaya, yang menyebabkan hati pelakunya dikunci mati.
    3. Meninggalkan Jum'atan 3 kali, Apakah harus berturut-turt?
      Ada dua kemungkinan makna. Pertama; ancaman ini terjadi ketika dia meninggalkan jumatan, baik berturut-turut atau secara terpisah. Sehingga ketika ada orang yang meninggalkan 1 kali jumatan setiap tahun, Allah akan mengunci hatinya pada pelanggaran yang ketiga. kedua; maksud ancaman ini, jika dia meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, sebagaimana disebutkan dalam hadis Anas. Karena melakukan dosa berturut-turut dan terus-menerus, menunjukkan sedikitnya rasa takutnya.
    4. Ancaman ini berlaku bagi orang yang meninggalkan jumatan tanpa udzur, sebagaimana yang ditegaskan dalam banyak hadis di atas. Sedangkan orang yang memiliki udzur untuk tidak jumatan, seperti sakit, safar (perjalanan), di laut, atau udzur lainnya, tidak termasuk dalam ancaman ini.

      Di zaman Umar, ada seseorang yang berencana melakukan safar di hari jumat. Kemudian dia mengurungkan rencananya, karena ingat harus jumatan. Kemudian ditegur oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,
      خرُج؛ فإِنَّ الجمعة لا تمنع من سفر
       Artinya :
      ”Berangkatlah, karena jumatan tidaklah menghalangi orang untuk melakukan safar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5107).

    Itulah beberapa ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat jum'atan. Mudah-mudahan setelah kita mengetahuinya, mulai sekarang tidak ada alasan lagi untuk melaksanakan ibadah shalat jum'at. Karena begitu meruginya diri kita apabila dengan sengaja meninggalkan sholat jum'at secara berturut-turut.  Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

    Sumber Referensi : 
    http://www.blogkhususdoa.com

    Senin, 13 Februari 2017

    Al Qur’an Mengharamkan Orang Kafir Memimpin Umat Islam




    Umat Islam harus waspada, dengan terpilihnya Jokowi menjadi Presiden RI, berarti yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah Ahok atau Zang Wan Xie alias Basuki Tjahja Purnama Basuki yang notabene bukan orang Islam.
    Habib Rizieq mengingatkan, HARAM umat Islam merestui jika pemimpinnya dari kalangan orang kafir. Sekali lagi, HARAM di wilayah mayoritas umat Islam orang kafir menjadi pemimpinnya. Sampai titik darah terakhir, kita tidak boleh mengakui orang kafir sebagai pemimpin umat Islam!.
    Habib Rizieq juga mengingatkan, kepada siapa pun umat Islam yang terlibat menaikkan Ahok agar segera bertobat. “Kepada anda yang menaikkan Ahok, anda akan BERTANGGUNG-JAWAB dihadapan ALLAH. Mumpung sekarang belum terlambat, mari sama-sama kita rapatkan barisan, kita tolak orang kafir jadi pemimpin!”. Demikian pesan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab saat pengajian di Markas Syariah – Petamburan III, Jakarta – Pusat, beberapa waktu lalu.
    Berikut ini adalah sejumlah dalil Qur’ani beserta terjemah Qur’an surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin:

    DALIL QUR’AN TENTANG HARAMNYA ORANG KAFIR MEMIMPIN UMAT ISLAM


    Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur’ani beserta Terjemah Qur’an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :
     Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

    1. Aali ‘Imraan : 28.

    {لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ} [آل عمران: 28]

    “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,  niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh,  kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali(mu).”

    2. An-Nisaa’ : 144.
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا} [النساء: 144]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu) ?”

    3. Al-Maa-idah : 57.
    { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 57]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU,  orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan,  (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu,  dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
     Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri 

    4. At-Taubah : 23.
    { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } [التوبة: 23]
     “Hai orang-orang beriman,  janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan,  dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali,  maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

    5. Al-Mujaadilah : 22.
    {لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة: 22]
    “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat,  saling  berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya,  sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK,  atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  mereka kekal di dalamnya. Alloh ridha terhadap mereka,  dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah,  bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”
    Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

     Aali ‘Imraan : 118.
    { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi TEMAN  KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka,  dan apa yang  disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami),  jika kamu memahaminya.”

    At-Taubah : 16.
    { أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [التوبة: 16]
    “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Alloh belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Alloh,  Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman? Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
    Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

    Al-Qashash : 86.
    { وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]
    “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu,  tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu,  sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

     Al-Mumtahanah : 13.
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ} [الممتحنة: 13]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Alloh. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”
    Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

     Aali ‘Imraan : 149-150.
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ } [آل عمران: 149، 150]
    “Hai orang-orang yang beriman,  jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu,  niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran),  lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Alloh),  Alloh lah Pelindungmu,  dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

    Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

    An-Nisaa’ : 141.
    {… وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا} [النساء: 141]
    “…… dan Alloh sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”
    Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
    1. 4. An-Nisaa’ : 138-139.
    { بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]
    “Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.”

    Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

     Al-Maa-idah : 51.
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [المائدة: 51]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,  maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

    Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

    Al-Maa-idah : 80-81.
    {تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]
    “Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka,  yaitu kemurkaan Alloh kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Alloh,  kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi),  niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong,  tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

    Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

     Al-Mumtahanah : 1.
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ } [الممتحنة: 1]
    “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad),  karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,  mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu     karena kamu beriman kepada Alloh,  Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka,  karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu  nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya,  maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

    Al-Qur’an mengancam adzab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

     Al-Mujaadilah : 14-15.
    {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [المجادلة: 14، 15]
    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan,  sedang mereka mengetahui. Alloh telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat  keras,  sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

    Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

     Al-Mumtahanah : 5.
    {رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [الممتحنة: 5]
    “Ya Tuhan kami,  janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    (nahimunkar.com)

    Rabu, 25 Januari 2017

    Info Penting ! PSB Ma'had Tahfizhul Qur'an As-Surkati TA 2017/2018



    ♻Bismillahirrahmanirrahim♻

    📢📢📢📢📢📢📢📢📢📢

    🕌 Ma'had Tahfizhul Qur'an As-Surkati 🕌

    🙇🏻Pendaftaran Santri Baru Tahun Pelajaran 2017-2018🙇🏻

    🏫 Unit Madrasah Aliyah Tahfizhul Qur'an (MATIQ) 🏫

    🙇🏼 PENDAFTARAN🙇🏼

    📩 Gelombang 1 : Tanggal 22 januari - 24 Februari 2017.
    ✏ Ujian Seleksi: 25 - 26 Februari 2017.
    🗣 Pengumuman: 28 Februari 2017.
    💰 Daftar Ulang: 1-10 maret 2017.

    🌾🍃🌾🍃🌾🍃🌾🍃🌾🍃🌾

    📩 Gelombang II : Tanggal 1 Maret - 14 April 2017.
    ✏ Ujian Seleksi: 15-16 April 2017.
    🗣 Pengumuman: 18 April 2017.
    💰 Daftar Ulang: 19 - 30 April 2017.

    🔐Syarat Pendaftaran (MATIQ) 🔐:

    🌿1. Khusus Putra.
    🌿2. Mengisi Formulir Pendaftaran (disediakan panitia).
    🌿3. Fotocopy raport kelas VIII, dan IX Mts/SMP.
    🌿4. Fotocopy Ijazah dan SKHUN (menyusul).
    🌿5. Pas Foto berwarna ukuran 3x4 = 3 lembar.
    🌿6. Membayar uang pendaftaran dan akomodasi Rp. 300.000;
    (Dibayar langsung saat pendaftaran atau transfer melalui rekening Ma'had Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Salatiga Nomor 7064455669) Setelah transfer.

     📲 Mohon konfirmasi ke nomor: 085713002745.

    🎓 Unit Ma'had Aly (MALTIQ) 🎓
    ♻GRATIS♻

    🔐Syarat Pendaftaran Ma'had Aly🔐 :

    ☘1. Putra
    ☘2. Lulus SMA / Sederajat
    ☘3. Belum menikah
    ☘4. Usia Maks. 23 th
    ☘5. Mampu membaca Al Qur'an dg baik.
    ☘6. Mampu berbahasa Arab mininal pasif.
    ☘7. Surat Persetujuan orang tua.

    💡Cara Pendaftaran :
    ♻* Pendaftaran langsung dilayani setiap hari kecuali hari jum'at, pada jam kerja bertempat di Sekretariat PPSB MATIQ As Surkati.
    🛣 JL. Diponegoro No. 115 Salatiga Jawa Tengah.

    📲* Pendaftaran Via SMS ketik : Daftar # (Nama Lengkap) # (Alamat rumah) # (Sekolah asal) # ( Nama orang tua/ wali) # ( Nomor Hp/ rumah). Kirim ke 085293767766.
    💧contoh: Daftar#hasyim huda#kemayoran, salatiga#smp islam terpadu dua salatiga#abu hasyim#08571234546.

    📚 Materi Ujian Seleksi :
    📝 Tulis ; Bahasa Arab, Matematika, Tsaqofah.
    🎤 Lisan ; Al Qur'an, Bahasa Arab, Wawancara, dan Kesehatan.

    💬 Info lebih lanjut Hub. melalui Contact Person (WA):
    📲📞 Ust. Mustaqim 085293767766
    📲📞 Ust. Abda Lail Isro, 085742019313
    📲📞 Ust. Diding Fathuddin 085729739994


    📨Share It_📨
    ..Semoga bermanfaat & menjadi ladang pahala..
    🆙🆙🆙🆙🆙🆙🆙🆙🆙
    Yg punya adik/saudara/kenalan yg ingin melanjutkan pendidikan SMA Dan sekaligus ingin menghafal alquran...
    Bisa disarankan utk masuk sini


    Terkait :

    Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Kahfi Hidayatullah Surakarta (Putera)  
    ROOIHATUL JANNAH, PESANTREN TAHFIDZ PUTRI TINGKAT SMP (Gratis/Subsidi Up To 100%)  
    PPTQ NURUL IMAN SURAKARTA (KHUSUS PUTRI)  
    Ma'had Aliy Tahfizhul Qur'an dengan Program Beasiswa 100% Gratis selama 2 tahun full